Kategori
Jasa Nikah Siri Surabaya

0814-1415-6404 Jasa Nikah Siri Surabaya Termurah

                        JASA NIKAH SIRI SURABAYA

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Surabaya dan Sekitarnya Seperti: Asemrowo, Benowo,Bubutan, Bulak, Dukuh Pakis, Gayungan, Genteng, Gubeng, Gununganyar, Jambangan, Karangpilang, Kenjeran, Kembangan, Lakalsantri, Pakal, Rungkut, Sawahan, Semampir, Simokerto dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akad Nikah Agma Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Surabaya ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Surabaya :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Surabaya ?

Alamat Jasa Nikah Siri Surabaya akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Surabaya.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Surabaya ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Surabayasendiri kami di Harga Rp. 2.xxx.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Surabaya

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Surabaya) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Surabaya , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Surabaya

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Surabaya

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Sumedang

0814-1415-6404 Jasa Nikah Siri Sumedang Termurah

                        JASA NIKAH SIRI SUMEDANG

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Sumedang dan Sekitarnya Seperti: Cibugel, Cimalaka, Cimanggung,Cisarua, Cisitu, Conggeang, Darmaraja, Jatigede, Jatinangor, Pamulihan, Paseh, Rancakalong, Situraja, Sukasari, Surian, Tanjungkerta, Tanjungmedar, Tanjungsari, Tomo, Wado dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akad Nikah Agma Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Sumedang ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Sumedang :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Sumedang ?

Alamat Jasa Nikah Siri Sumedang akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Sumedang.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Sumedang ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Sumedang sendiri kami di Harga Rp. 2.xxx.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Sumedang

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Sumedang) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Sumedang , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Sumedang

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Sumedang

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Lumajang

0814-1415-6404 Jasa Nikah Siri Lumajang Termurah

                        JASA NIKAH SIRI LUMAJANG

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Lumajang dan Sekitarnya Seperti: Candipuro, Gucialit, Jatiroto, Klakah, Kunir,  Lumajang, Padang, Pasirian, Pronojiwo, Randuagung, Rayunoso, Senduro, Sukodono, Tekung, Tempeh, Tempurari dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akad Nikah Agma Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Lumajang ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Lumajang :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Lumajang ?

Alamat Jasa Nikah Siri Lumajang akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Lumajang.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Lumajang ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Lumajang sendiri kami di Harga Rp. 2.xxx.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Lumajang

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Lumajang) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Lumajang , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Lumajang

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Lumajang

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Wonosobo

0814-1415-6404 Jasa Nikah Siri Wonosobo Termurah

                    JASA NIKAH SIRI WONOSOBO

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Wonosobo dan Sekitarnya Seperti: Garung, Kalibawang, Kalikajar, Kaliwiro, Kejajar, Kepil, Kertek, Leksono, Sapuran, Selomerto, Sukoharjo, Wadaslintang, Wonosobo, Watumalang dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akad Nikah Agma Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Wonosobo ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Wonosobo :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Wonosobo ?

Alamat Jasa Nikah Siri Wonosobo akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Wonosobo.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Wonosobo ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Wonosobo sendiri kami di Harga Rp. 2.xxx.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Wonosobo

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Wonosobo) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Wonosobo , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Wonosobo

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Wonosobo

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Kuningan

0814-1415-6404 Jasa Nikah Siri Kuningan Termurah

                        JASA NIKAH SIRI KUNINGAN

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Kuningan dan Sekitarnya Seperti: Ciawigebang, Cibeureum, Cibingbin, Cidahu,  Cigandamekar, Cigugur, Cilebak, Cilimus, Cimahi, Ciniru, Cipicung, Ciwaru, Darma, Garawangi, Hantara, Jalaksana, Jepara dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akad Nikah Agma Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Kuningan ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Kuningan :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Kuningan ?

Alamat Jasa Nikah Siri Kuningan akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Kuningan.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Kuningan ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Kuningan sendiri kami di Harga Rp. 2.xxx.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Kuningan

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Kuningan) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Kuningan , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Kuningan

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Kuningan

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Banten

0814-1415-6404 Jasa Nikah Siri Banten Termurah

                        JASA NIKAH SIRI BANTEN

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Banten dan Sekitarnya Seperti: Kab. Lebak, Kab. Pandeglang, Kab. Serang, Kab. Tanggerang, Kota Tanggerang, Cilegon, Kota Serang dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akad Nikah Agma Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Banten ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Banten :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Banten ?

Alamat Jasa Nikah Siri Banten akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Banten.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Banten ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Banten sendiri kami di Harga Rp. 2.xxx.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Banten

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Banten) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Banten , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Banten

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Banten

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Rembang

0814-1415-6404 Jasa Nikah Siri Rembang Termurah

                        JASA NIKAH SIRI REMBANG

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Rembang dan Sekitarnya Seperti: Bulu, Gunem, Kaliori, Kragan, Lasem, Pamotan, Pancur, Rembang, Sale, Sarang, Sedan, Sluke, Sumber, Sulang  dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akad Nikah Agma Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Rembang ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Rembang :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Rembang ?

Alamat Jasa Nikah Siri Rembang akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Rembang.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Rembang ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Rembang sendiri kami di Harga Rp. 2.xxx.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Rembang

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Rembang) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Rembang , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Rembang

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Rembang

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Cilacap

0814-1415-6404 Jasa Nikah Siri Cilacap Termurah

                        JASA NIKAH SIRI CILACAP

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Cilacap dan Sekitarnya Seperti: Adipala, Bantarsari, Bainangun, Cilacap Selatan, Cilacap Tengah, Cilacap Utara, Cimanggu, Cipari, Karangpucung, Kampunglaut, Kawunganten, Kesugihan, Kroya, Majenang, Maos, Nusawungu dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akad Nikah Agma Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Cilacap ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Cilacap :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Cilacap ?

Alamat Jasa Nikah Siri Cilacap akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Cilacap.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Cilacap ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Cilacap sendiri kami di Harga Rp. 2.xxx.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Cilacap

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Cilacap) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Cilacap , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Cilacap

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Cilacap

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Jepara

0814-1415-6404 Jasa Nikah Siri Jepara Termurah

                        JASA NIKAH SIRI JEPARA

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Jepara dan Sekitarnya Seperti: Bangsri, Batealit, Donorejo, Jepara, Kalinyamatan, Karimunjawa, Keung, Keling, Kembang, Mayong, Mlongo, Pakisaji, Tahunan, Welahan dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akad Nikah Agma Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Jepara ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Jepara :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Jepara ?

Alamat Jasa Nikah Siri Jepara akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Jepara.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Jepara ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Jepara sendiri kami di Harga Rp. 2.xxx.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Jepara

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Jepara) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Jepara , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Jepara

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Jepara

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Temanggung

0814-1415-6404 Jasa Nikah Siri Temanggung Termurah

                     JASA NIKAH SIRI TEMANGGUNG

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Temanggung dan Sekitarnya Seperti: Bansari, Bejen, Bulu, Candiroto, Gemawang, Kaloran, Kandangan, Jumo, Kedu, Kledung, Kranggan, Parakan, Pringsurat, Temanggung, Tlogomulyo, Tretep dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akad Nikah Agma Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Temanggung ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Temanggung :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Temanggung ?

Alamat Jasa Nikah Siri Temanggung  akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Temanggung.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Temanggung ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Temanggung sendiri kami di Harga Rp. 2.xxx.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Temanggung

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Temanggung) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Temanggung , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Temanggung

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Temanggung

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri