Kategori
Beranda

Jasa Nikah Siri Indonesia

               JASA NIKAH SIRI INDONESIA

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Indonesia ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Indonesia :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Indonesia ?

Alamat Jasa Nikah Siri Indonesia akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Purwokerto.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Indonesia ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Indonesia sendiri kami di Harga Rp. 2.000.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Indonesia

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Indonesia) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Indonesia , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Indonesia

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Indonesia

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Tasikmalaya

Jasa Nikah Siri Tasikmalaya

               JASA NIKAH SIRI TASIKMALAYA

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Tasikmalaya dan Sekitarnya Seperti: Bungursari, Cibereum, Cihideung, Cipedes, Mangkubumi, Kawalu, Purbaratu, Tamansari dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Tasikmalaya ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Tasikmalaya :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Tasikmalaya ?

Alamat Jasa Nikah Siri Tasikmalaya akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Purwokerto.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Tasikmalaya ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Tasikmalayasendiri kami di Harga Rp. 2.000.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Tasikmalaya

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Tasikmalaya) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Tasikmalaya , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Tasikmalaya

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Tasikmalaya

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Gresik

Jasa Nikah Siri Gresik

               JASA NIKAH SIRI GRESIK

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Gresik dan Sekitarnya Seperti: Balongpanggang, Benjeng, Bungah, Cerme, Kebomas, Kedamean, Tambank, Ujungpangkah, Sedayu dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Gresik?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Gresik :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Gresik ?

Alamat Jasa Nikah Siri Gresik akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Purwokerto.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Gresik?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Gresik sendiri kami di Harga Rp. 2.000.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Gresik

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Gresik) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Gresik , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Gresik

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Gresik

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Yogyakarta

Jasa Nikah Siri Yogyakarta

               JASA NIKAH SIRI YOGYAKARTA

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Yogyakarta dan Sekitarnya Seperti: Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo, Sleman, Yogyakarta dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Yogyakarta ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Yogyakarta :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Yogyakarta ?

Alamat Jasa Nikah Siri Yogyakarta akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Purwokerto.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Yogyakarta ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Yogyakarta sendiri kami di Harga Rp. 2.000.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Yogyakarta

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Yogyakarta) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Yogyakarta , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Yogyakarta

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Yogyakarta

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Subang

Jasa Nikah Siri Subang

               JASA NIKAH SIRI SUBANG

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Subang dan Sekitarnya Seperti: Binong, Blanakan, Ciasem, Ciater, Cibogo, Cijambe, Cipeundeuy, Cisalak, Subang, Sukasari, Tanjungsiang, Pabuaran dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Subang ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Subang :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Subang?

Alamat Jasa Nikah Siri Subang akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Purwokerto.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Subang ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Subang sendiri kami di Harga Rp. 2.500.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Subang

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Subang) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Subang , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Subang

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Subang

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Indramayu

Jasa Nikah Siri Indramayu

               JASA NIKAH SIRI INDRAMAYU

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Indramayu dan Sekitarnya Seperti: Anjatan, Arahan, Balongan, Bongas, Cikedung, Gantar, Indramayu, Jatibarang, Karangampel, Kroya, Patrol, Sindang dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Indramayu ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Indramayu :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Indramayu ?

Alamat Jasa Nikah Siri Indramayu akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Purwokerto.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Indramayu ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Indramayu sendiri kami di Harga Rp. 2.000.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Indramayu

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Indramayu) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Indramayu , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Indramayu

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Indramayu

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Purwokerto

Jasa Nikah Siri Purwokerto

               JASA NIKAH SIRI PURWOKERTO

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Purwokerto dan Sekitarnya Seperti: Rejasari, Purwokerto Wetan, Bancarkembar, Karangklesem,dan wilayah sekitarnya.

Jasa Nikah Siri Purwokerto
Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Prosesi Akan Nikah Agama Islam

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Purwokerto ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Purwokerto :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Purwokerto?

Alamat Jasa Nikah Siri Purwokerto akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Purwokerto.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Purwokerto ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Purwokerto sendiri kami di Harga Rp. 2.000.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Purwokerto

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Purwokerto) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Purwokerto , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat  Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Purwokerto

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Purwokerto

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
           a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    • b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
    1. Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  • Jasa Nikah Siri Solo
  • Jasa Nikah Siri Sidoarjo
  • Jasa Nikah Siri Cirebon
  • Jasa Nikah Siri Kediri

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Solo

Jasa Nikah Siri Solo

                           JASA NIKAH SIRI SOLO

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Jasa Nikah Siri Solo
Prosesi Akad Nikah Agama Islam

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Solo dan Sekitarnya Seperti: Banjarsari, Jebres, Laweyan, Pasar Kliwon, Dan Wilayah sekitar Lainnya

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Solo ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Solo :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Solo ?

Alamat Jasa Nikah Siri Solo akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Purwokerto.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Solo ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Solo sendiri kami di Harga Rp. 2.000.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Solo

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Solo) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Solo , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Solo

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Solo

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
    a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
      Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  1. Jasa Nikah Siri Purwokerto
  2. Jasa Nikah Siri Cirebon

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Sidoarjo

Jasa Nikah Siri Sidoarjo

                         JASA NIKAH SIRI SIDOARJO

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Jasa Nikah Siri Sidoarjo
Prosesi Akad Nikah Agama Islam

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Sidoarjo dan Sekitarnya Seperti: Balongbendo, Buduran, Candi, Gedangan, Jabon, Krembung, Krian, Prambon, Porong, Taman, Tarik, Tulangan, Waru dan wilayah sekitarnya.

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Pengertian Nikah Secara Agama Islam atau Nikah Siri :

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Sidoarjo ?

  • Kirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Sidoarjo :

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Sidoarjo ?

Alamat Jasa Nikah Siri Sidoarjo akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Purwokerto.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Sidoarjo ?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Sidoarjo sendiri kami di Harga Rp. 2.000.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Sidoarjo

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapatkan surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Sidoarjo) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Sidoarjo , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi

:وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ

Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Sidoarjo

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Sidoarjo

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
    a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
      Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.
  1. Jasa Nikah Siri Purwokerto
  2. Jasa Nikah Siri Solo

 

Kategori
Jasa Nikah Siri Cirebon

Jasa Nikah Siri Cirebon

                          JASA NIKAH SIRI CIREBON

Terimakasih  Sudah Berkunjung Ke Website Kami. Apakah Anda Sedang Mencari Jasa Penghulu Nikah Agama Islam, Biaya Nikah Agama Islam, Tempat/Lokasi Nikah Agama Islam atau mau konsultasi? Anda Berada di Tempat yang sangat Tepat !!!

Prosesi Akad Nikah Agama Islam
Jasa Nikah Siri Cirebon
Prosesi Akad Nikah Agama Islam

Baca dulu keterangan lebih lanjut di bawah.

Kami Melayani daerah Cirebon dan Sekitarnya Seperti: Arjawinangun,Kanci, Kendal, Bebebr, Ciledug, Jatiseng, Bojongnegara, Keduanan,Sumber, Depok, Getasan,Jagapura, Gebang, Gunungjati, Gempol, Kedawung dan wilayah sekitarnya.

Situs ini akan memberikan informasi lengkap mengenai Apa Itu Nikah Siri, Syarat Nikah Siri, Hukum Nikah Siri, Biaya Nikah Siri, Surat Nikah Siri, Tempat Nikah Siri atau Cara Nikah Siri.

A. Apa Itu Nikah Siri.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nikah siri berarti pernikahan yang hanya disaksikan oleh seorang modin dan saksi – saksi, tidak melalui Kantor Urusan Agama, sehingga perkawinan tersebut menurut agama Islam sudah sah.

وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌۭ

“Dan nikahkanlah orang-orang yg sendiri ( bujangan ) di antara kalian and orang-orang sholeh diantara para hamba sahayamu yg laki-laki dan perempuan. Jika mereka dlm keadaan miskin, Allah-lah yg akan menjadikan kaya dg karunia-Nya”

[ QS. An-Nur (24): 32]

Pernikahan Merupakan Sesuatu yang suci yang bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal . Bahkan termasuk dalam ibadah menurut Rasulullah.

B. Bagaimana Cara Mendaftar Nikah Siri Cirebon?

  • Mengirimkan KTP/ KK / SIM (pilih salah satu saja) Lalu kirim ke WA 0814-1415-6404
  • Menyebutkan Nama Masing-masing Ayah Kandung
  • Menyebutkan Mas Kawin / Mahar serta dibawa pada saat akad
  • Membawa Pas Foto Ukuran 2×3 Sebanyak @ 2 Lembar
  • Membawa Materai 10.000 Sebanyak 4 Buah

PENTING dari Jasa Nikah Siri Cirebon:

  • Pastikan wanita yang akan dinikahi tidak bersuami (Sudah Ditalak)
  • Wanita telah selesai masa iddahnya
  • Bagi yang Non Muslim Bersedia untuk di Mualafkan Terlebih Dahulu sekalian dilanjut akad nikah.
  • Usianya cukup untuk masing – masing mempelai
  • Pria belum memiliki 4 istri
  • Bukan Transgender
  • Keduanya Tidak dalam Keadaan Dipaksa

C. Dimana Lokasi Jasa Nikah Siri Cirebon ?

Alamat Jasa Nikah Siri Cirebon akan diberitahukan Setelah Persyaratan Dilengkapi. Atau bisa juga Anda mengundang kami ke rumah, Hotel atau masjid untuk Acara nikah Anda di seluruh wilayah Cirebon.

Kami Melayani daerah Cirebon dan Sekitarnya Seperti: Arjawinangun,Kanci, Kendal, Bebebr, Ciledug, Jatiseng, Bojongnegara, Keduanan,Sumber, Depok, Getasan,Jagapura, Gebang, Gunungjati, Gempol, Kedawung dan wilayah sekitarnya.

D. Berapa Biaya Nikah Siri Cirebon?

Biaya/tarif penghulu nikah siri bermacam macam tergantung dari wilayah Kota Masing – Masing, Untuk Wilayah Cirebon sendiri kami di Harga Rp. 2.400.000,- Adapun Biaya Tersebut sudah termasuk Tempat, Wali Hakim, Saksi – Saksi , Serta Seritikat Menikah Secara agama Islam.

Jika mengundang ke tempat Anda biasanya dikenakan biaya tambahan untuk transportasi Menuju Lokasi Anda

E. Surat Nikah Siri Cirebon

Apakah Setelah selesai akad Nikah Akan mendapat surat nikah siri ?

Apakah Surat tersebut berlaku dalam masyarakat ?

Surat nikah siri adalah surat berbentuk selembar kertas (Sertifkat) yang menyatakan bahwa anda telah melangsungkan akad nikah secara agama islam di tempat kami. Surat nikah siri yang kami terbitkan akan ditandatangani oleh Penghulu Nikah, Wali Nadzab/Hakim, Mempelai Pria dan juga Wanita, Serta dua orang saksi dewasa yg mengikuti pelaksanaan pernikahan tersebut.

Semua tertuang diatas materai.

Tidak ada pihak manapun (termasuk jasa nikah siri Cirebon) yg BERHAK mencetak/menerbitkan buku nikah, kecuali KUA.

Jika ada seorang yang menjanjikan mendapat buku nikah dalam pelaksanaan nikah siri, maka dapat dipastikan bahwa buku nikah tersebut adalah PALSU.

Hal ini dapat dikenai pidana sesuai aturan yang berlaku di UU Republik Indonesia No. 12 Th 2006 tentang Kewarganegaraan RI Pasal 37.

Mengenai Memberikan Keterangan yg Palsu, Termasuk Keterangan di Atas Sumpah, Membuat Surat/Dokumen Palsu, Memalsukan Surat/Dokumen.

F. Nikah Beda Agama apakah Bisa ?

Hukum tentang pernikahan beda agama adl sesuatu yg sangat amat rumit.

Ada banyak pandangan, banyak jg perbedaan pendapat tentang hal ini di berbagai kalangan, baik ulama maupun masyarakat.

Hal ini cenderung menjadi kontroversi di kalangan ulama, dan tentu saja masyarakat.

Sudah menjadi adat di masyarakat bahwa nikah beda agama adalah hal yang sulit diterima.

Kami, Jasa Nikah Siri Cirebon , TIDAK MELAYANI pernikahan dengan status beda agama kecuali bersedia mualaf terlebih dahulu. lalu dilanjutkan dengan prosesi akad nikah.

Hal tersebut sudah disampaikan di surat Al Baqoroh ayat 221 Yang berbunyi :وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّ ۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْ ۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْا ۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْ ۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِ ۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ ࣖ
Yang Artinya : “Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran”.

Sumber Ayat

G. Kelebihan dan Kekurangan Nikah Siri.

Sebelum memutuskan memilih pernikahan siri, Sebaiknya Ketahui apa saja kelebihan dan kekurangan jika kamu melakukan nikah siri :

I. Kelebihan Nikah Siri Cirebon

a) Sah di mata Agama
b) Menghindari fitnah
c) Lebih Praktis
d) Hemat

II. Kekurangan Nikah Siri Cirebon

a) Menjadi Perbincangan Banyak Orang
b) Status anak yang tidak diakui negara
c) Ikatan Yang tidak kuat karena tidak tercatat di KUA serta tidak             mendapatkan Warisan

  • Namun tetap Kembali lagi kepada anda, segala hal dan keputusan yang anda ambil adalah tanggung jawab dan kesiapan masing-masing individu Apabila ditujukan untuk meningkatkan kataqwaan dan menjauhi Zina, In sya Allah akan lebih baik untuk kedepannya.

H. Bagaimana Menikah Tanpa Adanya Wali Nasab ?

Terdapat pendapat para ulama mengenai pernikahan tanpa wali antara yang membolehkan dan yang tidak membolehkan,diantaranya :

Hanafiyah yang berpendapat bahwa wali bukan merupakan rukun nikah yang menyatakan bahwa wanita yang sudah pandai boleh menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali. Dari sekian pendapat yang membolehkan hanya Hanafiyah saja. Akan tetapi jika Anda pembaca bermazhab Hanafiyah maka boleh-boleh saja. Dalam hal ini saya tidak memfatwakan dari yang Hanafiyah, karena dalam fatwa jika terjadi perpindahan mazhab harus satu qodhiyah, dan hal ini tidak dapat dianggap enteng. Jika terjadi pernikahan yang demikian, misalnya nikah lari dan hal itu lebih membawa kepada kemashlahatan maka saya akan mengikuti Hanafiyah, atau pengantinnya harus pindah mazhab. Wallahu a’lam bisshowab.

I. Syarat-syarat Wali,

Seseorang dapat bertindak menjadi wali apabila dipenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, dan para ulama berbeda pendapat dalam masalah syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali. Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang wali menurut ulama Hanafiyah itu ada empat, yaitu sebagai berikut:

    a. Beragama Islam
    1. Ulama Hanafiyah tidak berbeda pendapat dengan ulama Syâfi’îyah mengenai persyaratan pertama ini. Antara wali dan orang yang dibawah perwaliannya di syaratkan harus sama-sama beragama Islam, apabila yang akan nikah beragama Islam disyaratkan walinya juga seorang Muslim dan tidak boleh orang kafir menjadi walinya. Hal ini berdasarkan firman Allah: (Ali Imran: 28) Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka, dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya, dan hanya kepada Allah kembali (mu). (At Taubah: 71)Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah: Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
    b. Baligh
    1. Baligh (orang mukallaf ), karena orang yang mukallaf itu adalah orang yang dibebankan hukum dan dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya. Karena itu baligh merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi oleh seorang wali, dan ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang hal ini. Dasarnya adalah Hadis Nabi: Diangkat hukum itu dari tiga (3) perkara: Dari orang yang tidur hingga bangun, dari anak-anak hingga bermimpi (dewasa) dan dari orang-orang gila hingga ia sembuh. (H.r. Bukhâri Muslim).
    c. Berakal sehat
    1. Berakal sehat, hanya orang yang berakal sehat yang dapat dibebani hukum, dan mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatannya, karena itu seorang wali disyaratkan harus berakal sehat. Ulama Hanafiyah sepakat dengan ulama Syâfi’îyah tentang syarat ini, sesuai dengan hadis di atas.
    d. Merdeka
    1. Ulama Hanafiyah mensyaratkan seorang wali harus orang yang merdeka, sebab orang yang berada di bawah kekuasaan orang lain (budak) itu tidak mimiliki kebebasan untuk melakukan akad, karena itu seorang budak tidak boleh menjadi wali dalam perkawinan.
      Dari pernyataan-pernyataan di atas jelaslah bahwa mengenai syarat-syarat wali beragama Islam merdeka, baligh, dan berakal sehat antara pendapat ulama Syâfi’îyah dan ulama Hanafiyah sama, akan tetapi mengenai laki-laki dan adil berbeda antara keduanya, ulama Hanafiyah membolehkan perempuan dan orang fasik (muslim yang tidak taat menjalankan ajaran-ajaran agama) bertindak menjadi wali.
  1.  J. Wali dan Urutannya
      Berdasarkan ulama Hanafiyah urutan wali sebagaimana yang dikemukakan ulama Syâfi’îyah yaitu keluarga dekat yang termasuk ashabah, ulama hanafiyah tidak membatasi wali pada keluarga dekat yang termasuk ashabah saja tetapi keluarga dekat yang termasuk dzaw al-arham juga mempunyai hak menjadi wali seperti paman dari pihak ibu atau saudara laki-laki seibu. Ulama Hanafiyah Beralasan mengapa wali dalam perkawinan adalah mereka yang dekat hubungannya dengan perempuan, yang terdekat kemudian dan seterusnya karena keluarga yang dekat akan adanya rasa malu apabila perempuan itu kawin dengan laki-laki yang tidak pantas untuk menjadi suaminya. Adanya perasaan malu ini tidak terbatas pada ‘ashabah saja juga terdapat pada dzawi al-shiham dan dzaw al-arham. Karena itu tidak ada alasan membatasi hak perwalian pada pernikahan hanya pada golongan ‘ashhabah saja.
  1.  K. Kedudukan wali
      Sementara masalah wali mujbir menurut ulama Hanafiyah wali itu hanya ada wali mujbir saja dan wali ghair mujbir itu tidak ada. Wali mujbir ini berkuasa terhadap perempuan yang masih kecil atau sudah dewasa tapi gila atau dungu dan yang berhak menjadi wali adalah ayah, kakek, dan saudara dekat yang termasuk ashabah dan saudara dekat yang termasuk dzawi al-arham.
    1. Abu Hanifah berpendapat bahwa perkawinan tidak mutlak harus memakai wali, sebab wali nikah hanya dibutuhkan bagi wanita yang masih kecil atau sudah dewasa tetapi akalnya tidak sempurna (dungu atau gila). Wanita yang merdeka dan sudah dewasa tidak membutuhkan wali nikah bahkan wanita yang sudah dewasa bisa menikahkan dirinya. Dengan kata lain perkawinan yang diucapkan oleh wanita yang dewasa dan berakal adalah secara mutlak adalah sah. Seorang perempuan yang bertindak sebagai wali pernikahan atas dirinya sementara ia masih memiliki wali nasab disyaratkan harus kafa’ah dan pemberian maharnya tidak kurang dari mahar mital. Jika pernikahan itu tidak sekufu maka walinya memiliki hak untuk menolak perkawinan itu atau diajukan permohonan fasakh kepada hakim. Hak penolakan perkawinan atau fasakh bagi wali ini berlaku jika wali mengetahui tidak kafa’ah itu sebelum terjadinya kehamilan atau melahirkan. Jika mengetahuinya setelah terjadinya kehamilan atau melahirkan, maka hak fasakh atau menolak perkawinan itu menjadi gugur dengan pertimbangan untuk kemaslahat pendidikan anak.34 Ada beberapa alasannya yang dikemukakan ulama Hanafiyah yaitu:
    a. Q.s. al-Baqarah [2]: 230, sebagai berikut:
    1. Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukumhukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.
    b. Q.s. al-Baqarah [2]: 232, sebagai berikut:
    1. Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa idahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber’idah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila Telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.
      Ayat 230 dan juga ayat 232 terdapat kata-kata tankihna dan yankihna yang terjemahannya menikah, di sini pelakunya adalah wanita bekas istri itu tadi. Secara makna hakiki (asli) perkerjaan itu semestinya dikerjakan langsung oleh pelaku aslinya, jelas tidak dikerjaklan oleh orang lain (wali) sebagaimana halnya pada makna majazi (kiasan). Demikian juga dapat dilihat dalam Q.s. al-Baqarah [2]: 234 terdapat kata kerja “fa’alna” yang artinya mengerjakan perbuatan pelakunya (fa’ilnya) adalah wanita-wanita yang kematian suaminya. Alquran surah al-Baqarah [2]: 234 bahwa nikah yang dilakakan oleh wanita segala sesatu yang dikerjakan tanpa menggantungkannya kepada wali atau izinnya wali. Jadi wanita mempunyai hak penuh terhadap urusan dirinya termasuk menikah tanpa bantuan wali.